Lama karena ngga buka-buka forum diskusi
dikarenakan kesibukan rutinitas, membuat saya sedikit buta informasi, ketinggalan
sama apa yang lagi booming and ramai dibicarakan. Baru pada saat Lady Gaga mau
konser tapi ditolak oleh FPI dan menjadi berita yang menghebohkan saja saya
jadi ikut kecipratan gossip (karena saking ributnya akhirnya saya cari2 berita
tentang itu). Melihat respon-respon dan komentar terhadap berita tersebut
sebenarnya tidak membuat saya terkejut. Hanya
saja rutinitas yang setiap hari saya jalani berjalan sangat lancar sehingga membuat
saya berpikir bahwa “dunia ini sedang baik-baik saja”. Tapi melihat pemikiran yang berkembang saat
ini sungguh membuat saya miris. Logika-logika jahiliyah ala yahudi saat
menentang Tuhan tergambar jelas disini. Kebetulan saya menemukan artikel yang
sepaham dengan saya tapi lebih menggambarkan dengan jelas dan dengan bahasa
yang gamblang. Artikel ditulis oleh mas dian kaizen. Silakan dibaca dan
dinikmati, jika masih belum ada pencerahan, berarti dirimu sendiri yang menutup
hati #katanya
Kata-Kata
Bijak yang Koplak
Hal
yang paling sulit dari banjir informasi di abad informasi, adalah menyaringnya…
Kemampuan
yang paling hebat, dan juga paling mengerikan dari para filsuf, sastrawan, dan
penulis amatiran (seperti saya), adalah merangkai kata-kata.. Kemampuan
persuasi, yang bisa membuat hal-hal yang sebenarnya koplak, terlihat bijak..
Suatu hal-hal yang jelas salah pun, akan bisa terlihat luar biasa benar, luar
biasa masuk akal, lengkap dengan argumen yang indah dan berbunga-bunga, yang
kedengarannya muncul dari seorang bijak berjanggut yang sedang bersemedi di
bawah pohon, lengkap dengan kicauan burung di latar belakang..
Kata-kata
bijak berikut ini, saat pertama anda membacanya, anda mungkin akan
manggut-manggut setuju, hati anda tersentuh, bahkan mata anda akan berkaca-kaca
sambil menghela napas panjang sambil membatin: ‘iya juga yaa..’ Benarkah itu bijak?
Yuk kita kritisi..
“Kita
tidak perlu menghakimi keburukan orang lain.. Biarlah itu urusan dia dengan
Tuhannya.. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan lah yang
berhak menghakimi, di akhirat kelak..”
Wow,
wow, wow, tunggu dulu.. Jika saja hanya Tuhan yang berhak menghakimi, mari kita
bubarkan semua lembaga peradilan, karena manusia tidak berhak menghakimi bukan?
Mau orang korupsi, mencuri, menjadi gay dan lesbian, menghina agama, bahkan
membunuh orang lain, biarkan saja.. Toh kita tidak berhak menghakimi orang lain
kan? Hanya Tuhan yang berhak. Jadi jika ada polisi yang coba mendenda
kita karena buang sampah atau merokok sembarangan di Singapura, tampar saja si
sok tahu itu, dan katakan: “hanya Tuhan yang berhak menghakimi saya!!” Jika
kita hanya membiarkan Tuhan yang mengadili semua keburukan-keburukan manusia di
dunia, kita tidak perlu hukum lagi, dan mari kita kembali ke zaman batu (bahkan
manusia zaman batu pun punya peraturan). Atau kita ikuti saja kata-kata teman
saya: “Lemah teles, Gusti Alloh seng mbales..”
“Kenapa kita ribut-ribut masalah yang
sepele sih? Pornografi diributin, penulis buku yang mempromosikan lesbi
dihalangin.. Lady Gaga diributin.. Mendingan urusin tuh koruptor, mereka yang
lebih berbahaya bagi bangsa kita ini..”
Weks..
Ini sih sama saja dengan: “Ngapain kita tangkap orang yang nyolong sandal, itu
tuh yang maling motor aja digebukin..”. Lha perbuatan buruk, besar atau kecil,
tetap harus dihalangi.. Jika orang tersebut menentang pornografi, bukan berarti
dia diam saja terhadap koruptor kan? Bukankah lebih baik kita menjaga dari
keduanya.. Katakan: say no to pornografi dan korupsi! Dua-duanya, menurut saya,
cepat atau lambat, akan menghancurkan negara ini.. Bahkan masyarakat barat
sendiri pun cukup resah dengan pornografi, koq malah kita mendukungnya?
“Tuhan
itu maha kuasa, maha agung, maha besar. Jadi ga perlu dibela. Jika kalian
membentuk gerakan untuk membela agama, itu sama saja dengan kalian melecehkan
kekuasaan dan kekuatan Tuhan. Tuhan ga perlu dibela..”
Weleh,
tunggu sebentar.. Organisasi-organisasi agama yang dibentuk selama ini, dari
agama manapun, didirikan untuk membela Tuhan, atau untuk kepentingan para
pemeluk agama? Organisasi tersebut dibentuk untuk mengurusi, menyuarakan, dan
mengakomodasi kepentingan para penganutnya.. Jika organisasi tersebut bertujuan
melindungi kepentingan para anggotanya, kenapa dituduh sedang berusaha membela
Tuhan? Saya koq tidak ingat ada organisasi agama yang visi dan misi
organisasinya adalah: “untuk membela Tuhan di muka bumi..”
“Kenapa
sih anti banget dengan seks bebas? Anti banget dengan rok mini? Padahal
diam-diam toh suka nonton film porno, doyan seks juga, suka melototin paha
juga.. Dasar otaknya aja yang kotor.. Bersihin tuh otaknya, jangan urusin
pakaian orang lain.. Kalau otaknya bersih dan imannya kuat, mau ada yang
telanjang di depannya juga ga akan tergoda.. Gak usah munafik dan sok suci
deh..”
Lhaaa…
Sebentar… Kelompok yang anti seks bebas bukan berarti mereka ga doyan seks ya..
Yang menjadi penentu adalah bagaimana cara kami menyalurkan hasrat kami.. Kami
tentu saja suka seks, menikmati seks, tapi dengan pasangan kami, dengan cara
yang bertanggung jawab.. Seks merupakan rahmat Tuhan, tapi nikmatilah secara
bertanggung jawab.. Jika kami memang maniak seks yang suka meniduri semua
makhluk yang berkaki dua, tentu saja kami dengan senang hati mendukung seks
bebas.. Itu berarti kami makin bebas meniduri berbagai macam wanita tanpa harus
pusing mikirin pampers dan susu, karena, dengan menyebarnya paham seks bebas,
makin banyak wanita yang bersedia kami manfaatkan (dan kami tiduri), kemudian
kami tinggalkan setelah puas..
Otak
kami yang kotor? Ayolah, jika saja para lelaki diciptakan tanpa nafsu, maka
sudah lama manusia punah.. Sudah kodratnya laki-laki akan tergerak nafsunya
jika melihat paha wanita.. Jika ada lelaki yang dengan gagah berani tepuk dada
bilang: tidak tergerak nafsunya saat melihat paha wanita cantik, itu hanya
omong kosong agar semakin banyak wanita yang memamerkan pahanya dengan senang
hati.. Rok mini, memang diciptakan untuk memancing perhatian (dan nafsu) para
lelaki.. Jika kami memang berfikiran kotor dan tak bisa menahan iman, tentu
kami akan turun ke jalan mendukung semua wanita untuk memakai rok mini.. Agar
makin banyak wanita yang bisa memuaskan nafsu kotor kami.. Jadi, siapakah yang
berfikiran kotor dan tidak bisa menahan iman? Para lelaki yang menentang rok
mini, atau pendukungnya? Para penentang seks bebas, atau pendukungnya?
Propaganda,
seringkali seperti pelacur, menggunakan riasan tebal dan indah untuk menutupi
kebusukan di baliknya..
Saya
pernah tinggal di kos-kosan di Yogya, yang anak-anaknya terdiri dari berbagai
macam aliran: agnostik, atheis, kejawen, liberal, penyembah keris, bahkan ada
begitu bingung, sehingga akhirnya mengaku sebagai komunis relijius…
Dengan
beragamnya fikiran yang pernah kami perdebatkan, diiringi menyeruput kopi dan
menghisap rokok, fikiran saya dijejali dengan berbagai macam aliran lengkap
dengan argumen yang luar biasa indah.. Mungkin itu yang membuat saya jadi
terlatih mengasah logika, sambil garuk-garuk kepala, dan selalu mencoba melihat
jauh ke balik kata-kata nan indah itu.. Nih, kata-kata bijak yang lagi trend
saat ini:
“Lady
Gaga koq diributin.. Apa bedanya dengan yang sudah ada di Indonesia? Penyanyi
Indonesia juga banyak tuh yang seronok. Tuh penyanyi dangdut seronok masuk
sampai ke kampung-kampung, ditonton anak-anak. Jika mau adil, yang seperti itu
juga dilarang dong..”
Lha
para pendukung kebebasan itu memangnya selama ini mendukung pelarangan
pornografi sampai ke kampung-kampung? Dulu saat Inul banyak yang menentang,
kaum liberalis juga menggunakan dalil yang sama: ‘yang lain juga dilarang
doong’. Protes soal chef Sarah Quin (betul ga ya namanya?), juga ditentang
dengan alasan: ‘dia ga sengaja tampil seronok koq’. Jika tempat-tempat maksiat
digerebek, katanya menghalangi orang cari nafkah. Jika penyanyi dangdut seronok
itu diprotes masyarakat sekitar, dijawab: urus dosa masing-masing, kalau ga
suka ya ga usah nonton.. Bahkan di saat semua itu berusaha dikurangi dengan UU
Anti Pornografi dan Pornoaksi, banyak yang menjerit-jerit: “jangan memasung
kebebasan berekspresi!” Intinya kan sebenarnya: “Jangan larang kami melakukan
pornografi dan pornoaksi, di tingkat manapun! Mau kami menari bugil sambil
mutar-mutarin baju di atas kepala di genteng rumah kami, yo jangan protes!”
Jadi, kenapa membanding-bandingkan Lady Gaga ama Keyboard Mak Lampir? (julukan
para pedangdut seronok di daerah kami..). Toh dua-duanya sebenarnya kalian
dukung, atas nama kebebasan berekspresi? Kami, malah sedang berusaha menentang
dua-duanya..
“Kita
hidup dlm masyarakat yg sangat plural, sehingga setiap individu hendaknya bebas
memilih & menjalankan apapun prinsip hidupnya (termasuk mendukung Irshad
Manji atau Lady Gaga), lalu semuanya saling menghormati dlm segala perbedaan
pilihan tsb”
Hmm..
Bijak dalam teori, kacau balau dalam praktek. Jika saja semua individu bebas
menjalankan prinsip hidupnya, maka kita ga perlu nunggu suku Maya meramalkan
akhir dunia. Bisa dibayangkan, jika banyak orang yang mendukung Sumanto, lalu
menjalankan prinsip hidupnya sebagai kanibal, maka ayam goreng Kentucky ga
bakal laris lagi, dan banyak orang yang nenteng-nenteng pisau daging dan botol
merica di jalanan.. Atau, jika banyak orang yang mendukung Amrozi, kemudian menjalankan
prinsip hidupnya sebagai pelaku bom bunuh diri, maka terminal bus way yang
paling sesak pun akan bubar dalam 5 detik (termasuk penjaga tiketnya) begitu
ada lelaki menyandang ransel datang mendekat..
Ya, ya
saya tahu.. Argumen saya di atas pasti akan berusaha dimentahkan dengan
argumen: “yang penting kan ga merugikan kalian” dalam bentuk kata-kata bijak
nan koplak berikut:
“Apa
salahnya dengan pornografi? Atau lesbi? Atau perbuatan-perbuatan maksiat
lainnya? Toh ga merugikan anda. Jika anda tidak suka, ya ga usah ditonton, ga
usah diikuti. Jika takut anak anda terpengaruh, ya perkuat pendidikan
iman anak-anak anda. Kalau iman sudah kuat, mau 1000 Lady Gaga datang ke
Indonesia, iman kita (dan anak-anak kita) tidak akan terpengaruh..”
Hellooo..
Kita memang makhluk individu, tapi kita juga makhluk sosial. Setiap tindakan
kita, sekecil apapun, akan berpengaruh terhadap lingkungan kita. Contoh
gampangnya, kenapa kita protes sama tetangga kita yang buang sampah ke kali?
“Toh sampahnya sampah dia sendiri (ya mana mungkin dia dengan ikhlas buangin
sampahnya ente), kalinya bukan milik mbahmu, lantas kenapa ente yang sewot?”
Lha memangnya kalo banjir, banjirnya muter-muter dulu cari siapa bajingan yang
membuang sampah, lalu terus menyerbu menggenangi rumah tetangga anda saja
sampai setinggi kepala?
Ok kita
tidak suka perbuatan-perbuatan maksiat, dan kita berhasil menghindarinya. Lalu
kita juga menanamkan iman yang kuat ke anak-anak kita, dan juga berhasil. Dan
kita teriak ke luar sana: “Maree seneee Lady Gaga, Freddy Mercury, Jhon Kei dan
Mak Lampir jadi satu!! Iman saya dan keluarga saya dah kuat koq!” Tapi sekian
tahun ke depan, tiba-tiba ada anak tetangga kita yang kecanduan pornografi,
lalu tidak tahan, dan akhirnya memperkosa anak perempuan kita.. Atau ada orang
yang mabuk karena alkohol dan narkoba, lalu menabrak seluruh keluarga kita yang
sedang jalan-jalan di trotoar.. Atau anak perempuan kita hilang, diculik
sindikat yang menjualnya ke prostitusi.. Atau anak lelaki anda disodomi
keluarga jauh anda.. Atau seorang pecandu merampok dan membunuh anda karena
butuh uang untuk beli sabu.. Sama seperti banjir, ekses negatif dari perbuatan
maksiat, tidak akan pernah pilih-pilih siapa korbannya, baik anda berbuat
maksiat atau tidak..
Benar,
bahwa kita tidak salah 100%, tapi, sebenarnya, kita tetap punya andil dalam hal
itu. Kita sukses memperkuat iman keluarga kita, tapi kita abai dengan
lingkungan kita. Itulah kenapa dalam Islam ada seruan: “amar makruf, nahi
munkar”. Menyeru kepada kebajikan, mencegah kemungkaran. Jika kita mengabaikan
kemunkaran di lingkungan kita, dengan prinsip: “urus dosa masing-masing”,
yakinlah, cepat atau lambat, kita akan memetik hasilnya…
Masih
enggan untuk amar makruf nahi munkar?
“Beri
saya 10 media massa, maka saya akan merubah dunia..”
Saat
ini, sungguh naif jika kita percaya media mainstream akan memberikan opini yang
netral dan berimbang terhadap semua hal. Mereka akan memberikan opini yang
sesuai dengan kepentingan sang pemilik (gimana kalo pemiliknya adalah Ryan
Jagal?). Sungguh sangat berbahaya jika kita menganggap semua yang diberitakan
media adalah berita yang 100% benar, tanpa berusaha mengkritisi dan mencari
berita dari sudut pandang lain sebagai penyeimbang. Yuk, kita kritisi kata-kata
bijak penutup ini...
“Menonton
atau membaca pornografi, kekerasan, atau apapun tidak akan mempengaruhi saya.
Toh semua manusia dibekali filter untuk menyaring, dan otak untuk berfikir.
Jadi mau saya baca atau tonton ribuan kali pun , tidak akan merubah pendirian
saya.. Satu kali nonton konser lady Gaga tidak akan membuat yg nonton jd pemuja
setan dan lesbian kan?”
Hohohoho..
Yuk kita bandingkan keadaan sekarang dan keadaan 20 tahun yang lalu, tahun
80-90an. Zaman dulu, seks bebas di Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya.
Untuk kaum remaja saat itu, bergandengan tangan di depan umum saja, sudah
menimbulkan ledekan yang membuat sang pelaku ingin menceburkan diri ke selokan
terdekat. Lihat anak-anak sekarang? Mungkin anda sendiri yang dengan sukarela
akan menceburkan diri ke selokan terdekat saat melihat gaya mereka berpacaran.
Bahkan sekarang mereka dengan senang hati menyebarkan prilaku mereka dalam
bentuk video yang jumlahnya mulai menyaingi produksi film porno Amerika dalam
setahun.. Kenapa bisa bergeser? Apa anda kira para orang tua dan guru lah yang
menanamkan dogma: “Anakku, kamu harus rajin-rajin seks bebas yaa, biar dapat
rangking.. Yuk kita memasyarakatkan seks bebas dan menseks bebaskan
masyarakat..”?
Jadi,
siapa yang mengajari mereka? Jawabannya sederhana: media massa. Selama
berpuluh-puluh tahun mereka menggempur otak bawah sadar kita dengan berbagai
film, buku, berita, cerita, sinetron, dan lain-lain yang secara sangat halus
menyiratkan: “Seks bebas itu hal yang biasa aja cooy.. Anak gaul, malu dong
jika masih perawan di usia 18. Tuh, banyak artis idola kamu yang melakukannya.”
Memang benar 1000 kali membaca, atau 1x nonton Lady Gaga belum tentu merubah
kita.. Tapi, pesan-pesan itu ditanamkan selama berpuluh-puluh tahun, dalam
bentuk jutaan pesan per tahun, dari berbagai arah, terhadap anda dan keluarga
anda. Yakin anda dan keluarga anda tidak terpengaruh sedikitpun?
Siapa
yang paling mudah bobol? Tentu saja anak anda. Anda kira, kenapa iklan McDonald
dan rokok mengarah kepada anak-anak dan remaja? Karena merekalah berada dalam
fase yang labil dan paling mudah dipengaruhi, dibandingkan orang tuanya. Saat
mereka menjadi dewasa dan lebih bijaksana, rokok, junkfood dan seks bebas itu
sudah menjadi kebiasaan mereka, candu mereka, sehingga mereka akan sangat sulit
meninggalkannya, walau akhirnya paham kerusakan macam apa yang ada dibaliknya.
“Tetap
ngga ngaruh maaas, iman gue kan KW1″
Mungkin. Tapi, sedikit banyak, anda akan terpengaruh. Anda akan menjadi
permisif: “Biar ajalah orang lain melakukannya, yang penting aku tidak.. Toh
banyak yang melakukan, dan itu bukan urusanku”. Itulah yang menjadi target
selanjutnya: menanggalkan kontrol sosial anda.. Jika laju ‘cuci otak’ ini terus
berlanjut, sepuluh tahun ke depan, jangan heran jika akhirnya kitalah yang
mengekspor video porno ke Amerika dan masyarakat Amerika lah yang nonton konser
Iwak Peyek Tour 2022..
“Jangan
melihat siapa yang mengatakan dong. Kalau mau mengkritisi, kritisi gagasannya,
kata-katanya, fikirannya. Jangan kritisi pribadi dan kelakuannya (bahasa
alaynya: ad hominem).”
Oalaaah..
Saya beri contoh kasus ringan. Misalnya, kata-kata ini diucapkan dua orang yang
berbeda: “Saya akan memajukan bangsa Indonesia. Saya akan berjuang menciptakan
budaya bebas korupsi, pola hidup sederhana, dan mengikis habis kebohongan birokrat
dan legislatif” Yang pertama, diucapkan oleh Buya Hamka. Satu lagi, diucapkan
Angelina Sondakh. Saya rasa, yang pertama membuat anda manggut-manggut percaya,
dan yang kedua membuat anda setengah mati menggigit bibir, lalu terguling
karena tertawa terbahak-bahak.. Kenapa kata-kata yang sama persis, dengan nada
sama persis, tapi diucapkan oleh dua orang yang berbeda, hasilnya bisa berbeda?
Setiap kata-kata, sebijak apapun, selalu ada motif dibaliknya. Dan motif itu,
sangat terkait dengan pribadi orang yang mengucapkannya. Jadi, kenapa kita
tidak boleh mengkritisi pribadi yang mengucapkannya?
Jika
anda ingin minta pendapat tentang gaya rambut, anda bertanya kepada penata
rambut, atau ke tukang las? Jika saya bilang “lha masa tukang las mengerti soal
gaya rambut”, apa itu ad hominem?
Kasus
Irshad Manji adalah contoh lain yang gamblang tentang hal itu. Dia
dibesar-besarkan media sebagai seorang reformis muslim yang berusaha
mencerahkan umat Islam. Tapi di dalam bukunya, ia membantah prinsip-prinsip
Islam sendiri dengan cara mempromosikan lesbian, gay dan transgender, menghina
jilbab, bahkan meragukan kesempurnaan Al Quran.. Jika kita mengkritisi
pribadinya yang lesbian (dan tentu saja ia akan berjuang keras agar lesbian
dihalalkan dalam Islam) dan mengkritisi sikapnya yang meragukan Al Quran, di
mana salahnya? Bukankah kita memang selalu menilai siapa yang berbicara, bukan
hanya apa yang ia ucapkan? Bagaimana mungkin dia seorang muslim, jika ia
meragukan Al Quran? Itu kan sama saja dgn ia mengaku lesbian, sambil menyatakan
lagi jatuh cinta dgn Rhoma Irama.. Lha kenapa jika kami meragukan keislamannya,
tiba-tiba muncul teriak-teriak histeris “Ad hominem! Ad hominem!?”
Nah,
kata bijak terakhir ini, mungkin adalah yang paling masuk akal, dan paling
sulit dibantah. Tapi mungkin juga, inilah kata-kata bijak yang paling koplak..
“Di
masyarakat yang plural ini, janganlah ada pemaksaan kehendak. Biarlah setiap
orang melakukan pilihannya sendiri, tanpa paksaan. Sesuatu yang dipaksa itu
pasti tidak baik. Nilai yang dianut setiap orang berbeda, jadi jangan paksakan
nilai yang kamu anut terhadap orang lain.. Jangan jadi tirani mayoritas..”
Sulit
membantahnya kan?
Pertama-tama,
saya tanya dulu: apakah sebagian besar dari kita memang dengan sukarela masuk
kerja jam 8 dan pulang jam 5 atau bahkan lembur? Apakah memang kita yang
memohon-mohon agar jatah cuti kita setahun cukup dua minggu? Apa anda memang
luar biasa ikhlas dengan jumlah gaji anda sekarang? Jika tidak, kenapa anda
tidak coba mengatakan kepada atasan anda sekarang:”Maaf pak, sebenarnya saya
menganut paham bahwa kerja itu hanya 3 jam sehari, cuti 6 bulan dalam setahun,
dengan gaji minimal 30 juta. Jadi, jangan paksakan kehendak bapak..”
Apa
anda dulu saat remaja belajar dengan sukarela, ikhlas bin legowo?
Semua
hukum dan undang-undang, apalagi dalam alam demokrasi, pada prinsipnya, adalah
pemaksaan kehendak, dari sebagian besar masyarakat yang sepakat, kepada
masyarakat lainnya yang tidak sepakat. Memangnya semua orang setuju dengan UU
tentang Narkotika? Atau UU tentang Korupsi? Atau bahkan UU Pajak? Apa anda kira
semua wajib pajak memang sudah gatal setengah mati ingin membayar pajak sebesar
itu? Lha kenapa kaum liberal ga pernah menjerit-jerit di jalanan: “Jangan
paksakan kehendak! Biarkan mereka bayar pajak seikhlasnya..”
Jadi
kenapa, saat ada penduduk di suatu daerah setuju untuk memberlakukan perda anti
prostitusi, perjudian dan miras, dengan hukuman cambuk bagi pelakunya, kaum
liberal tiba-tiba lantang berteriak “Itu melanggar HAM!”. Anda kira
memenjarakan orang itu tidak melanggar HAM nya untuk hidup bebas merdeka? Dan
kenapa, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi berusaha disahkan, tiba-tiba
saja prinsip demokrasi berdasar suara terbanyak dianggap sebagai tirani
mayoritas? Jika memang begitu, ga ada salahnya dong jika para pecandu narkoba
dan miras ramai-ramai naik xenia untuk demo di jalanan dan berteriak “Jangan
jadi tirani mayoritas! Kalian sudah melanggar HAM kami untuk ajeb-ajeb sampai
pagi..”.
Jika
saja setiap undang-undang harus disepakati semua orang dulu baru bisa disahkan,
maka kita tidak akan pernah punya undang-undang satu pun. Yang tidak boleh,
adalah memaksa dengan kekerasan. Jika sudah banyak yang setuju, dan memang UU
itu demi kebaikan bersama (sama seperti kita dipaksa belajar saat remaja), di mana
salahnya?
“Orang-orang
yang mencari kebenaran itu, seperti air.. Jika dihadang, ia berbelok.
Dibendung, ia akan merembes. Bahkan jika dibendung dengan menggunakan beton
dalam bendungan raksasa, ia akan menguap.. Ia tidak akan pernah lelah mencari
jalannya…”
NB: Jika
menurut rekan-rekan tulisan ini pantas dishare, tolong dishare ya..
Tanpa menyebutkan nama saya juga tidak apa. Biarlah ini jadi amar
makruf nahi munkarnya kita, secara lisan..
twitter: @DianJatikusuma
fb: Dian Jatikusuma
sumber: http://muda.kompasiana.com/2012/05/17/kata-kata-bijak-yang-koplak/