Monday, July 2, 2012 | By: nunu gongjunim

Abu Nawas Dan Hartawan Pembangkang Zakat (Kisah Abu Nawas)

     Ini sebuah kisah tentang Abu Nawas dan masalah-masalah yang terjadi di sekililingnya. Abu Nawas terkenal dengan humornya yang jenaka namun cerdik (agak terlihat konyol) tapi penuh makna yang akan menyentil, menampar-nampar, menyadarkan dan meluruskan kembali logika kita yang mungkin sudah terjangkiti virus-virus liberalis modernisasi. 

     Karena tingkahnya yang "tidak biasa" banyak yang akhirnya tidak suka pada Abu Nawas, namun banyak juga masyarakat (bahkan dari daerah yang jauh) meminta pertolongan padanya agar dicarikan jalan keluar dengan cara-cara cerdik khas ala Abu Nawas.

     Suatu hari, Abu Nawas dikejutkan dengan utusan Harun al Rasyid yang tergopoh-gopoh datang ke rumahnya. Pesuruh istana hanya menjelaskan kalau ia diminta untuk menjemput Abu Nawas dengan segera, tanpa mengerti untuk apa ia menjemput Abu Nawas. Dengan patuh, Abu nawas pun segera turut bersama perusuh istana untuk menghadap Sultan.

      Di balairung istana, telah menunggu Sulktan dengan wajah yang terlihat masygul. "Aku sungguh mengharap bantuanmu, Abu Nawas."

"Bantuan apa sesungguhnya, Baginda Sultan?" Abu Nawas balik bertanya.

"Begini," Sultan mulai bercerita, "Aku dengar Tuan Mahmud sudah mulai membangkang terhadap kewajiban agama. Para pemungut zakat di daerah melaporkan kalau ia sudah tidak mau lagi membayar zakat. Padahal kini dia orang kaya raya."

"Mengapa Baginda tidak memerintahkan pengawalmenangkap dan menghukumnya. Bukankah itu mudah saja Baginda lakukan?" tanya Abu Nawas.

"Sebenarnya aku bisa saja berbuat begitu. Tapi aku berharap kita bisa menempuh cara lain. Bagaimanapun ia dulunya adalah orang yang rajin membayar zakat. Entah mengapa, semakin kaya, semakin enggan pula dia membayar zakat. Jika ia tak juga berubah, barulah kita menghukumnya."

      Mendengar nama Tuan Mahmud, Abu Nawas tahu kalau Tuan Mahmud adalah orang yang sangat kikir. hampir tidak ada orang yang menyukainya. Dan kini Abu Nawas pun dibuat pusing dengan ulah Tuan Mahmud yang kini mulai menghindari zakat. menghindari kewajiban pada agama dan kerajaan. Ia pun harus mencari jawaban bagi Sultan.

"Begini saja, Baginda," usul Abu Nawas.
"Beri aku kesempatan berpikir untuk membantu Baginda. Nanti akan kekabari jika sudah menemukan jalan buat Baginda.

"Baiklah, tapi kau tentu tahu kalau kita tak bisa menunggu terlalu lama," kata Sultan menjawab permintaan Abu Nawas.

      Beberapa hari kemudian, Abu Nawas datang ke istana. "Bagaimana, Abu Nawas? Sudah kau temukan jalan keluar?" Sultam segera bertanya tak sabar.
"Sudah, Baginda yang mulia. Cuma caranya Baginda harus turut menyamar jadi pengemis. Apakah Baginda bersedia?"

      Meski Sultan terkejut dengan usul Abu Nawas, namun karena keinginan untuk menyadarkan Tuan Mahmud, Sultan Harun Al Rasyid pun bersedia.

      Tak lama, dengan menyamar sebagai pengemis berpakaian lusuh, Abu Nawas dan Sultan pun datang ke rumah Tuan Mahmud. Kali itu, mereka beruntung karena Tuan Mahmud sedang ada di rumah. Abu Nawas pun segera memberi salam. "Assalammu'alaikum Tuan, semoga Tuan selalu diberkahi Allah. Kami ini pengemis, apakah Tuan ada sedikit uang ataupun makanan bagi kami yang hina ini?"
"Tidak ada!: jawab Tuan Mahmud dengan angkuh.
"Kalau begitu, berilah kami sekedar remah roti kering untuk mengisi perut kami yang sedang lapar."
"Makanan pun tidak ada. Kalian pergilah!" kali ini Tuan Mahmud menghardik mereka.
Jawaban Tuan Mahmud tak membuat Abu Nawas gentar. Ia malah menjawab,"Kalau Tuan tidak punya apa-apa, mengapa tidak ikut kami saja jadi pengemis?"

      Wajah Tuan Mahmud langsung memerah. Merasa terhina dengan jawaban Abu Nawas yang dianggapnya lancang, Tuan Mahmud hendak memukul Abu Nawas. Namun Sultan segera membuka kedoknya, "Bagaimana Mahmud, apa kau ingin turut bersama kami untuk mengemis?" tanya Sultan. Tuan Mahmud langsung mengenali Sultan Harun Al Rasyid dan menyadari mengapa mereka mendatangi rumahnya dan menyamar sebagai pengemis. Tetapi saudagar itu hanya terdiam mendengar pertanyaan Sultan.

"Kalau kau mau tetap menjadi saudagar kaya raya, kau harus membayar zakat dan memberi sedekah pada yang fakir. Kalau tidak, ikutlah pada Abu Nawas untuk mengemis dari rumah ke rumah. Bukan begitu, Mahmud?"

      Tuan Mahmud tetap diam menunduk karena merasa sangat malu. Sedang Abu Nawashanya tersenyum melihat Tuan Mahmud yang tak berdaya di hadapan Sultan.

      Keesokkan harinya, Abu Nawas dipanggil lagi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Setelah menghadap, Sultan mengabari kalau Tuan Mahmud telah membayar zakat sesuai dengan perhitungan badan amil zakat. Sultan juga memberinya hadiah sebagai upah membantu petugas zakat. "Agar kau tak perlu mengemis Abu Nawas," ucap Sultan pada Abu Nawas. Mendengar ucapan Sultan, Abu Nawas hanya terkekeh.

0 comments:

Post a Comment