Post-an ini lahir sebagai bentuk pertentangan dari komentar2 dengan logika koplak yang berjejalan merajalela di forum dan artikel sekarang2 ini. Sebelumnya masalah “kata-kata bijak yang koplak” pernah dibahas oleh Mas Dian Kaizen dalam artikelnya di kompasiana (re-post disini). Logika yang ketika misalnya ditanya “Kamu kalau nonton film sedih nangis ngga?”, “Wah gue kan ngga suka film sedih tuh, jadi ya ngga nangis lah”. Hellaaaw… siapa juga yang nanyain suka atau tidaknya? Kan tidak ada. Logika yang dipakai itu logika apa yah, kok jawabannya bisa melenceng seperti itu. Ini cuma permisalan kecil aja. Banyak yang lebih PARAH, ANEH, FREAK yang pokonya jawaban2 ala Yahudi menentang Tuhan. (Oops... kita kan sekarang ada di jaman dimana kejahatan dan kegelapan akan terlihat keren, dimana pengikut setan seakan lebih terlihat membanggakan! Ketawa, ketawa deh setan ngdengernya, dimanakah pride atau kebanggaan sebagai manusia? あら、忘れた!私たち、悪と暗闇がカッコ良くなり、悪魔の追随者は(レディー・ガガみたいに?)誇りを持っているように見える時代に生きているのね。鬼に笑われちゃう。人間としてのプライドはどこに行ったの?).
Tapi, waktu dulu saya masih hanya bisa mengeluarkan komentar2 permisif yang menurut saya juga bukan sebuah penyelesaian “yah…amal masing2, pilihan masing2, akan dipertanggungkawabkan oleh masing2”. Dan itu langsung terbantahkan ketika saya membaca sebuah kalimat dalam post-an di-atas : “emangnya kalau Sumanto dengan prinsipnya “memakan manusia” itu mau tetep eksis di dunia, kita biarkan saja? Kalau orang-orang yang kita kenal atau bahkan kita cintai jadi korbannya, kita mau? Atau ketika Afri2 lain yang (menyupir dalam keadaan fly) menabrak keluarga kita yang padahal sudah jalan di trotoar akan kita biarkan saja?" Sudah saatnya sikap permisif kita buang jauh-jauh, sudah tidak jamannya. Jangan hanya diam saja melihat kemungkaran terjadi. Saatnya berdiri untuk menentangnya. Manusia itu harus punya batas. Dan aturanlah yang dapat membatasinya. Suarakan ketidakadilan. ADIL = Pada Tempatnya, DZOLIM = Tidak Pada Tempatnya. Kalau masyarakat tidak ada yang berani menentang kemungkaran, kalau semua berpikir pakai logika KOPLAK, mau jadi apa dunia kita?
Karena itu saya ingin mengingatkan kembali akan sosok seorang Abu Nawas. Yang dengan akal-akal cerdasnya mampu membuat logika kita tersentil, mampu menggerakkan kembali rasa kritis yang mungkin sudah usang. Dan mampu meneriakkan "sebuah ketidakadilan" meski tanpa suara. Tapi sebelum kita menikmati kisahnya, ada baiknya kita mengenal biografinya.
Abu Nawas dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan dianggap sebagai salah satu Penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah Seribu Satu Malam. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya'qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa'ad as-Samman.
Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.
Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah (Dinasti Kedua, setelah masa kepemimpinan 4 Khalifah, Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a, Ali r.a, kaum muslimin dipimpin oleh pemerintahan yang berbentuk kerajaan, Dinasti pertama adalah Umayah yang didirikan oleh Muawiyah, salah seorang sekretaris Rosul saw) inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.
Dalam Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad).
Kita pasti masih hapal dengan lirik salawat satu ini :
Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.
Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah (Dinasti Kedua, setelah masa kepemimpinan 4 Khalifah, Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a, Ali r.a, kaum muslimin dipimpin oleh pemerintahan yang berbentuk kerajaan, Dinasti pertama adalah Umayah yang didirikan oleh Muawiyah, salah seorang sekretaris Rosul saw) inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.
Dalam Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad).
Kita pasti masih hapal dengan lirik salawat satu ini :
“Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa 'alaa naaril jahiimi
Tuhanku... aku tidak layak memasuki syurga Firdaus
Dan aku pun tak mampu menahan siksa api Neraka
Dan aku pun tak mampu menahan siksa api Neraka
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil 'azhiimi
Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar
Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar
Dzunuubii mitslu a'daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Dosa-dosaku amatlah banyak bagai butiran pasir
Terimalah taubatku, wahai Yang Maha Agung
Terimalah taubatku, wahai Yang Maha Agung
Wa 'umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Umurku berkurang setiap hari, sedang dosa-dosaku terus bertambah
Bagaimana aku sanggup menanggungnya?
Bagaimana aku sanggup menanggungnya?
Ilaahii 'abdukal 'aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da'aaka
Tuhanku... hamba-Mu yg durhaka ini datang bersimpuh menghadap-Mu
Mengakui dosa-dosa dan menyeru memohon kepada-Mu
Mengakui dosa-dosa dan menyeru memohon kepada-Mu
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka”
Bila Kau mengampuni, Engkaulah Sang Pemilik Ampunan
Bila Kau campakkan aku, kepada siapa aku mesti berharap selain dari-Mu?
Bila Kau campakkan aku, kepada siapa aku mesti berharap selain dari-Mu?
Syair di atas adalah satu dari syair berisikan pengingat doa kematian serta doa memohon ampunan yang dibuat oleh Abu Nawas yang melegenda hingga sekarang. Sembari menunggu datangnya shalat Maghrib dan Subuh, biasanya syair ini dilantunkan oleh para jamaah shalat. Meski telah berumur hampir 11 abad, namun syair ini masih tetap terlantun hingga sekarang. Menjadi satu bukti perjalanan panjang menuju Tuhan, menggambarkan perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah. Abu Nawas bukanlah orang yang luput dari dosa, sama seperti manusia biasa lainnya. Namun jiwanya terus mencari dan mencari hakikat kebenaran. Tidak berdiam saja, apalagi membiarkan kemungkaran2 terjadi di depan matanya.
0 comments:
Post a Comment